Google

Tampilkan postingan dengan label visual art. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label visual art. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 Juli 2015

Rabu, 15 Juli 2015

Figur

Reza Mustafa. Pen on carton

Kita, lima tahun sekali menyisihkan sehari waktu yang amat penting menjalani hidup, hanya untuk memilih beberapa orang calon untuk kita tempatkan pada juru kemudi yang kita sebut penguasa. Atau segerombolan orang yang akan ditempatkan pada tugas legislasi.

Berpuluh-puluh tahun dan itu terus diwariskan dalam bentuk pemilu, kita belum sepenuhnya berhasil menyaring orang yang cocok. Ada saja salah pilih. Belum lagi godaan dalam bentuk janji dan materi, hadir mempermanis jalannya pemilihan. Pemilu menjadi peristiwa politik penuh skenario atraktif. Kita disuguhi sandiwara yang cukup menarik di tengah kehausan hiburan.

Reza Mustafa, penulis sekaligus jama'ah Komunitas Kanot Bu, dalam vignetnya menangkap betapa figur pemimpin atau tokoh yang tersedia tidak utuh. Ada saja kurang. Lengkap kepala, tidak utuh indera. Ada mata tidak ada otak. Atau sebaliknya. Karya tahun 2012 ini dipajang di pintu kamar belakang KKB. dan kita menangkap ketakutuhan ini sebagai bentuk sinisme terhadap perilaku politik politikus. Misal, berjubah agamis, korup terselubung. Berdandan tokoh, makan dana bantuan amat bernafsu. Juga misalnya, latar seniman, begitu berpolitik, elitis dan feodal berperilaku. Fenomena ini sedang trend paska reformasi hingga paska damai Aceh.

Figur yang utuh dalam perilaku hanya kita dapati dalam kisah hikmah atau dongeng pengantar tidur anak kita. Selebihnya, nihil.


Senin, 29 Juni 2015

Orang di Balik Poster TerasSore

Zulham Yusuf. Desainer grafis
Poster kedua terassore

TerasSore adalah forum diskusi santai yang dihelat oleh Komunitas Kanot Bu. Bertempat di BilikRoepa PaskaDom, Bivak Emperom. Diskusi ini sudah berjalan dua kali mengetengahkan diskusi "Musik dan kepekaan Sosial" dan "Rupa Membongkar Kepura-puraan".

Diinisiasi oleh orang muda, forum ini diisi oleh orang muda yang independensinya masih kuat. Pendanaan misalnya, mereka berpatungan (meuripee) untuk keperluan diskusi. Begitu juga dengan berbagai kepentingan lainnya.

Untuk keperluan publikasi acara, TerasSore mendesain poster secara sederhana yang dikerjakan sepenuhnya oleh Zulham Yusuf. Seorang desainer muda yang gairah menciptanya sedang menuju puncak. Untuk gambar ilustrasi dikerjakan oleh Idrus bin Harun. Namun begitu, kedua orang ini sama sekali tidak saling mencampuri kavling tugas. Zulham secara merdeka menumpahkan ide. Begitu juga Idrus.

Antara ilustrasi poster dan desain keseluruhan tentu saling menyandar. Typografi, komposisi dan penggunaan font sepenuhnya lahir dari permenungan Zulham. Pengerjaan poster yang hanya memiliki waktu biasanya satu hari, menjadi tantangan tersendiri bagi Zulham.

Poster memiliki peran besar dalam tiap even apa pun. Bahkan, politik kerap menggunakan seni ini untuk menggoda, membenarkan dan memaksa audien politiknya. Bahasa poster adalah perpaduan teks dan visual yang mampu merebut perhatian massa.


Senin, 09 Maret 2015

sedekade gelembung gelombang

Wilayah kontemplasi ini bertepian lansung dengan memori para korban tsunami. sehingga kerap mampu membangunkan kembali kenangan pahit yang telah 10 tahun tidur. 

gelembung gelombang. karya BallBell. cat air di atas triplek


Minggu, 08 Maret 2015

Bahasa Visual yang dilembagakan

galeri paskadom
ini satu sudut di Paskadom gallery. Semua lukisan yang berhasil diwujudkan ini adalah hasil kerja keras kawan-kawan paskadom bilikroepa. 

Untuk sejauh ini, galeri ini belum sepenuhnya siap. Masih ada beberapa sudut yang mesti mendapat sentuhan hingga terlihat estetik.

di bivak emperom, galeri ini kerap dijadikan tempat diskusi sambil ngopi hingga ke jauh malam. terutama oleh Pemesan geulanceng. bahkan betah berjam-jam mendiskusikan banyak hal di tempat yang masih menyerupai gudang.
Diskusi tak resmi yang lahir di sini kerap tercurah dalam wujud nyata karya berupa lagu, tulisan, kaos hingga lukisan.

Seni, mewadahi apa yang diperbincangkan di ruang ini secara fleksibel tanpa menyekatnya dengan tinggi-rendah dan agung-hina. berikut foto-fotonya:

Kamis, 17 Juli 2014

Melukis Bersama di BilikRoepa

foto by Reza Mustafa
 Di Bivak Emperom, kami selalu menyempatkan waktu untuk melukis bersama. sering sekali kami lakukan berdasarkan keikhlasan dan kejujuran sesuai bakat dan minat. artinya, kami melukis sejujur mungkin dari segi teknik dan imajinasi masing-masing tanpa takut-takut. walau kadang berkali-kali gagal mengungkapkan perasaan melalui bahasa visual.

Gambar Penguat Taklimat

'mita beulanja'. bivak emperom wall. foto by Reza Mustafa
(Idrus bin Harun punya maklumat sekalian gambar penguat taklimat. Bukan tak perlu hadih maja zaman baheula, tapi pikiran dan logika nalar yang menjalar dalam konteks kekinian adalah penting untuk melahirkan ide-ide segar yang tak monoton atawa itu itu saja.Reza Mustafa melalui akun istagramnya)

Gambar ini persis berada di area Majelis Permusyawaratan Lirik Komunitas Kanot Bu di Bivak Emperom. gambar ini dilukis Idrus Bin Harun dan Cut Aya Sofia. mural sederhana ini mengkritik perilaku politikus yang menyandang gelar pejuang. tapi malangnya hanya sekedar alat untuk mencari nafkah semata. begitulah. 

Selasa, 15 Juli 2014

Orang di Balik Layar

orang di belakang layar 8 September 2011 — di PaskaDOM Bilik Roepa KKB.

Saya menyebut coretan di Atas sebagai sketsa imajinatif. karena terlalu ribet mencari sebutan-sebutan lain. gambar ini saya buat tahun 2011 di Bivak Emperom. tidak ada konsep khusus yang melatari semua penampakannya. hanya mengikuti kemana intuisi mengalir saja dan sekedar untuk mengasah goresan.